Kamis, 03 September 2009

Sekolah KEHIDUPAN

Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja siap menjadi orang miskin.
Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.
Tidak siap hidup susah beresiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan resiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat “tahan banting”. Katahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu jiwa butuh “imunisasi”.

Menerima Kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil. Kandati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih merasakan kegagalan.
Tugas orang tua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Agar jiwa menjadi tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup. Seperti Vaksin, biasakan anak memilkul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidup susah.
Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi menjadi kenyataan, spirit kerja kerapun dipecut.
Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen (5%) otak, selebihnya keringat (perspirasi). Tapi, kenyataannya di Indonesia, khusunya di Nunukan ini menggunakan hanya satu persen (1%) saja masih sangat sulit, bahkan hampir tidak tampak. Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tidak pernah puas pada PRESTASI yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa sepantarnya karena memiliki “virus” n-Ach (need-for-Achievement) yang tinggi.
“Virus” n-Ach ini, bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan. Bacaan yang memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang yang lebih tua. Itu modul – modul kehidupan agar anak tau juga hidup susah.

Jiwa Getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik atau rasa krisis. Tanpa tempaan stresor jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tidak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup beresiko gagal andai harus jatuh miskin.
Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan adalah mengasuh dan mendidik anak – anak agar menjadi tahan banting. Mandat ini harus ada di pundak setiap orang tua.
Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan mosern anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan diam – diam, dalam suasana berkemah atau outbond diciptakan situasi krisis. Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari, atau kehabisan makanan selagi camping.
Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa tahan banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng. Gara – gara ditinggal pacar, tidak naik kelas, ditolak / dipecat dari tempat kerja, sebab jiwa tidak terlatih untuk memikulnya. Maka jiwa perlu digembleng.

Kerja Keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.
Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki “virus” n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan di didik dengan nilai – nilai “virus” n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya; dari cara makan. Anak denga n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. Bersakit – sakit dulu bersenang – senang kemudian, jangan bersakit – sakit kemudian karena KELAKUAN. Hal inilah yang menjadi kredo bangsa maupun daerah yang sukses.
Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata. Tidak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).
Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya di mata Tuhan.

Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh super-egonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin. Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan meyuntikkan “vaksin” hidup prihatin. Perlu pula penyubur super-ego agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.
Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah manapun hidup memandang merasa tetap “kaya”. Mampu legawa, bersyukur dan merasa bahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan kendati mungkin hanya menjadi orang biasa (dikutip dari tulisan HANDRAWAN NADESUL)

SEKARANG, bagaimana kita berterima kasih kepada SEKOLAH UNIVERSITAS KEHIDUPAN yang telah mengajarkan kita banyak HAL (SRIE_OPINION).



2 komentar:

  1. Mbak Sriany,

    Salut buat semangatnya memberi pembelajaran bagi mereka yang memerlukan. Artikel ttg Transportasi Hijau nya menarik.

    Salam,
    Tri (t_karyono@yahoo.com)

    BalasHapus
  2. @ Pa'Tri Harso Karyono :

    Alhamdulillah, Tks.
    Semoga Bermanfaat...//

    Insya ALLAH, Kali berikutnya Kita bisa berbagi Ilmu Pengetahuan & Pengalaman.

    Tks,
    SriE (srie_myself2000@yahoo.com / sriany.ersina@gmail.com)

    BalasHapus